Rabu, 16 Desember 2015

Ujian Akhir Semester Jurnalistik

Ragam Wisata Hutan Raya Ir.Juanda


Minggu 6/12/15 – dengan penuh kepastian saya dan teman-teman membuat janji pukul 06.00 pagi bertemu di rumah teman kami untuk berangkat bersama ke Kota Kembang. Tujuan kami sama, yaitu untuk mendapatkan sepenggal informasi, cuplikan wawancara dan sembari menikmati keindahan alam Kota Kembang.


pukul 07.00 kami berangkat dari Ibukota Jakarta menuju Kota Kembang, Bandung. Sebelumnya kami melipir ke Tambun untuk menjemput teman kami untuk bergabung menuju Bandung. Sekitar satu setengah jam dari Tambun Bekasi kami tiba di Pasteur, Bandung. Kamipun langsung menuju ke Trotoart Cafe untuk mengantar teman kami mewawancarai pemilik cafe tersebut. Setelah mewawancarai pemilik cafe tersebut , beliau meminta kami untuk mengantarkan ke ruamahnya di daerah Puncul, ke tempat suaminya. Setelah sampai di rumahnya,  begitu nyamannya karna tempatnya yang sejuk dan rindang.

Tak berfikir panjang kami langsung menuju Tebing Keraton tujuan utama kami dengan bermodalkan Google Maps. Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk mengisi perut kami dengan suatu makanan. Kami berniat untuk makan mie kocok tapi karna cuaca yang gerimis dan jam menunjukan pukul 14.00 kami memutuskan makan Kentaky di pinggir jalan. Setidaknya perut kami tidak keroncongan lagi. Kami melanjutkan perjalanan ke Tebing Keraton. Ternyata tidak perlu waktu lama, dan dari kejauhan kami sudah melihat Baliho Hutan Raya Ir.Juana yang berisikan bermacam objek wisata yaitu, Tebing Keraton, Goa Jepang dan Goa Belanda.

Saat sedang memarkirkan mobil, kami langsung di hampiri oleh petugas objek wisata tersebut. Kami di minta membayarkan tiket seharga Rp.11.000/orang. Menurut saya harga cukup terjangkau. Saya bertanya pada petugasnya jika ingin ke Tebing Keraton harus lewat mana, lalu petugas tersebut mengatakan kepada kami, tidak me rekomendasikan untuk ke Tebing Keratong dengan kondisi cuacanya yang buruk. Memang saat kami tiba di Pos 1 cuacanya hujan dan jalanannya becek. Karna jika naik ke tebing keraton, di atas keadaanya becek dan gerimis kencang.

Kami kecewa karna tidak bisa ke Tebing Keraton karna hujan. Kami tidak mau menyia-nyiakan Rp.11.000 kamipun memutuskan untuk pergi ke Goa Jepang dan Goa Belanda. Saat baru masuk kami di suguhkan pemandangan indah pohon pinus dan bunga sepatu. Sejuk sekali, tidak seburuk ekspetasi kami. Setelah kami menikmati sejuknya di awal, kami mulai jalan kembali dan menuju goa jepang yang jaraknya 400 meter dari tempat kami berdiri. Untuk ke Goa Jepang kami menuruni banyak anak tangga berbatu yang lumayan curam.
 
Hutan Raya Ir.Juanda
Tak lama kami berjalan sampailah kami di Goa Jepang. Dan kami bertemu dengan seorang pemandu untuk membawa kami menelusuri kegelapan Goa Jepang. Di dalam tidak ada sama sekali penerangan, satu-satunya sumber cahaya hanya dari pintu kami masuk taadi. Sebelumnya, saat di pintu masuk tadi kami di tawari untuk menyewa senter untuk menjadi penerangan di dalam Goa dengan harga RP.5000.  lalu kami masuk, menulusuri Goa Jepang sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu kami. Mereka menjelaskan bahwa ini adalah tempat para tentara jepang bersembunyi, dan Goa tersebut yang buat adalah para budak indonesia.

Setelah dari Goa Jepang, kami keluar dan melanjutkan perjalanan menuju Goa Belanda. Perjalanannya cukup jauh yaitu 1,2KM untuk tiba di Goa peninggalan Belanda tersebut. Perjalanannya cukup jauh dan cukup menantang, mengingat cuacanya yang gerimis kencang dan jalanannya becek tanah liat dan basah karna air hujan. Di tengah perjalanan kami di suguhkan pemandangan dari hutan raya ini dengan tebing-tebing di sebelah kiri kami yang juga di selimuti embun. Kamipun mengabadikan momen tersebut, dengan berfoto bersama teman-teman di tempat tersebut.

Kamipun mewawancarai ibu-ibu yang sedang meneduh. Namanya ibu juli, asal Bandung Selatan yang datang bersama temannya, untuk menikmati suasana alamnya karna sudah bosan dengan suasananya hirupikuk keramaian mall di kota. “Kami sudah antisipasi dengan membawa jas hujan” katanya. saat perjalanan menuju hutan raya Ir.juanda ini hamparan mobil dan bus wisata mengantri dan menimbulkan kemacetan di bawah. Ibu juli juga berkata dengan harga Rp.11.000 ntuk masuk sangat terjangkau dengan bisa menikmati wisata alam ini.
 
Bersama Para Pengunjung
Dan saat kami meneduh kami mampir untuk minum kopi dan pop mie lalu kami mewawancari ibu penjual tersebut. Kami bertanya berapa banyak pengunjung yang datang jika di akhir pekan. Ibu tersebut berkata “Wah yang pasti sih banyak, kalo dihitung bisa 500 orang”. ibu itupun berkata jika ingin ke tebing keraton jangan saat hujan seperti ini, karna bahaya di atas licin. Sambil menunggu hujan reda, kami meneduh di saung sambil ngobrol-ngobrol bersama pengunjung lainnya yang juga sedang meneduh. Mereka berkata, di Hutan Raya Ir.Juanda tidak hanya ada Goa Jepang, Goa Belanda dan tebing keraton, tetapi juga ada area wisata untuk anak-anak yang juga dateng ke Hutan Raya Ir.Juanda.
 
Goa Jepang
Lalu kami melanjutkan untuk jalan ke Goa Belanda, sebelumnya ibu yang kami wawancarai mengingatkan untuk tidak menyewa senter lagi, karna Goa tersebut tidak terlalu panjang dan bisa menggunakan flash Handphone. Lalu saat ada pemandu kami memutuskan untuk masuk sendiri tanpa pemandu, karna dengan pemandu kami harus membayar kembali. Saat kami masuk, di dalam Goa Belanda kami melihat banyak besi tergantung dan menempel di dinding-dinding Goa.


Tidak lama kami di dalam, kami segera keluar karna hari mulai sore. Kami kembali ke Pos 1, ke parkiran mobil kami tadi dan akan kembali Ibukota. Saat melewati daerah Chiampelas, dan kami singgah di satu toko oleh-oleh untuk membeli sedikit buah tangan untuk di bawa pulang. Kami mencoba mendapatkan seblak dan mie kocok namun, kami tidak menemukannya. Namun walau begitu kami tidak kecewa karna apa yang kami butuhkan telah kami dapatkan.

2 komentar:

  1. Claraaa si calon jurnalis handal hehe keren

    BalasHapus
  2. Wah berapa kali bolak balik ke bandung belum pernah ke Goa Jepang nih penasaran jadinyaa,Bolehlah nanti cobaa huehehehe

    BalasHapus