Ragam Wisata Hutan Raya Ir.Juanda
Minggu 6/12/15 – dengan penuh
kepastian saya dan teman-teman membuat janji pukul 06.00 pagi bertemu di rumah teman kami untuk
berangkat bersama ke Kota Kembang. Tujuan kami sama, yaitu untuk mendapatkan
sepenggal informasi, cuplikan wawancara dan sembari menikmati keindahan alam
Kota Kembang.
Tak berfikir panjang kami langsung menuju Tebing Keraton tujuan utama kami dengan bermodalkan Google
Maps. Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk mengisi perut kami dengan
suatu makanan. Kami berniat untuk makan mie kocok tapi karna cuaca yang gerimis
dan jam menunjukan pukul 14.00 kami memutuskan makan Kentaky di pinggir jalan.
Setidaknya perut kami tidak keroncongan lagi. Kami melanjutkan perjalanan ke
Tebing Keraton. Ternyata tidak perlu waktu lama, dan dari kejauhan kami sudah
melihat Baliho Hutan Raya Ir.Juana yang berisikan bermacam objek wisata yaitu, Tebing
Keraton, Goa Jepang dan Goa Belanda.
Saat sedang memarkirkan mobil, kami langsung di hampiri oleh petugas objek wisata tersebut. Kami di minta
membayarkan tiket seharga Rp.11.000/orang. Menurut saya harga cukup terjangkau.
Saya bertanya pada petugasnya jika ingin ke Tebing Keraton harus lewat mana,
lalu petugas tersebut mengatakan kepada kami, tidak me rekomendasikan untuk ke Tebing Keratong
dengan kondisi cuacanya yang buruk. Memang saat kami tiba di Pos 1 cuacanya
hujan dan jalanannya becek. Karna jika naik ke tebing keraton, di atas
keadaanya becek dan gerimis kencang.
Kami kecewa karna tidak bisa ke
Tebing Keraton karna hujan. Kami tidak mau menyia-nyiakan Rp.11.000 kamipun
memutuskan untuk pergi ke Goa Jepang dan Goa Belanda. Saat baru masuk kami di
suguhkan pemandangan indah pohon pinus dan bunga sepatu. Sejuk sekali, tidak
seburuk ekspetasi kami. Setelah kami menikmati sejuknya di awal, kami mulai
jalan kembali dan menuju goa jepang yang jaraknya 400 meter dari tempat kami
berdiri. Untuk ke Goa Jepang kami menuruni banyak anak tangga berbatu yang
lumayan curam.
Tak lama kami berjalan sampailah kami di Goa
Jepang. Dan kami bertemu dengan seorang pemandu untuk membawa kami menelusuri
kegelapan Goa Jepang. Di dalam tidak ada sama sekali penerangan, satu-satunya
sumber cahaya hanya dari pintu kami masuk taadi. Sebelumnya, saat di pintu
masuk tadi kami di tawari untuk menyewa senter untuk menjadi penerangan di
dalam Goa dengan harga RP.5000. lalu
kami masuk, menulusuri Goa Jepang sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu
kami. Mereka menjelaskan bahwa ini adalah tempat para tentara jepang
bersembunyi, dan Goa tersebut yang buat adalah para budak indonesia.
Setelah dari Goa Jepang, kami keluar
dan melanjutkan perjalanan menuju Goa Belanda. Perjalanannya cukup jauh yaitu
1,2KM untuk tiba di Goa peninggalan Belanda tersebut. Perjalanannya cukup jauh
dan cukup menantang, mengingat cuacanya yang gerimis kencang dan jalanannya
becek tanah liat dan basah karna air hujan. Di tengah perjalanan kami di
suguhkan pemandangan dari hutan raya ini dengan tebing-tebing di sebelah kiri
kami yang juga di selimuti embun. Kamipun mengabadikan momen tersebut, dengan
berfoto bersama teman-teman di tempat tersebut.
Kamipun mewawancarai ibu-ibu yang
sedang meneduh. Namanya ibu juli, asal Bandung Selatan yang datang bersama
temannya, untuk menikmati suasana alamnya karna sudah bosan dengan suasananya
hirupikuk keramaian mall di kota. “Kami sudah antisipasi dengan membawa jas
hujan” katanya. saat perjalanan menuju hutan raya Ir.juanda ini hamparan mobil
dan bus wisata mengantri dan menimbulkan kemacetan di bawah. Ibu juli juga berkata
dengan harga Rp.11.000 ntuk masuk sangat terjangkau dengan bisa menikmati
wisata alam ini.
Dan saat kami meneduh kami mampir
untuk minum kopi dan pop mie lalu kami mewawancari ibu penjual tersebut. Kami
bertanya berapa banyak pengunjung yang datang jika di akhir pekan. Ibu tersebut
berkata “Wah yang pasti sih banyak, kalo dihitung bisa 500 orang”. ibu itupun
berkata jika ingin ke tebing keraton jangan saat hujan seperti ini, karna
bahaya di atas licin. Sambil menunggu hujan reda, kami meneduh di saung sambil
ngobrol-ngobrol bersama pengunjung lainnya yang juga sedang meneduh. Mereka
berkata, di Hutan Raya Ir.Juanda tidak hanya ada Goa Jepang, Goa Belanda dan
tebing keraton, tetapi juga ada area wisata untuk anak-anak yang juga dateng ke
Hutan Raya Ir.Juanda.
Lalu kami melanjutkan untuk jalan
ke Goa Belanda, sebelumnya ibu yang kami wawancarai mengingatkan untuk tidak
menyewa senter lagi, karna Goa tersebut tidak terlalu panjang dan bisa
menggunakan flash Handphone. Lalu saat ada pemandu kami memutuskan untuk masuk
sendiri tanpa pemandu, karna dengan pemandu kami harus membayar kembali. Saat
kami masuk, di dalam Goa Belanda kami melihat banyak besi tergantung dan
menempel di dinding-dinding Goa.
Tidak lama kami di dalam, kami
segera keluar karna hari mulai sore. Kami kembali ke Pos 1, ke parkiran mobil
kami tadi dan akan kembali Ibukota. Saat melewati daerah Chiampelas, dan kami
singgah di satu toko oleh-oleh untuk membeli sedikit buah tangan untuk di bawa
pulang. Kami mencoba mendapatkan seblak dan mie kocok namun, kami tidak
menemukannya. Namun walau begitu kami tidak kecewa karna apa yang kami butuhkan
telah kami dapatkan.
Claraaa si calon jurnalis handal hehe keren
BalasHapusWah berapa kali bolak balik ke bandung belum pernah ke Goa Jepang nih penasaran jadinyaa,Bolehlah nanti cobaa huehehehe
BalasHapus